Dim Lights (4/7)

intheheights chenluna2

Dim Lights, episode 4: When You’re Home

debut fic by Liana D. S.

casts EXO Chen x f(x) Luna, and some OCs // genre Romance, Friendship, Family, InTheHeights!AU // length Chaptered // rating Teen and Up // warning Bahasa Spanyol bertebaran!

.

prev: ep.3

.

“Ketika kau berada di rumah, segalanya menjadi lebih mudah.”

***

Claudia adalah sosok abuela—nenek—bagi para Dominikan di lingkungannya, tidak terkecuali Luna. Pada pribadi sederhana wanita tua itu, Luna jumpai tempat tenang untuk mengeluhkan apa yang tidak bisa dikeluhkan pada ayah-ibunya di saat-saat susah. Setiap pulang dari Stanford, Luna pasti menyempatkan diri mengunjungi sang ‘nenek’ untuk bertukar cerita; ia akan membicarakan kehidupan kampus dan Claudia berkisah tentang tanah airnya dulu, Kuba. Sore itu, sayangnya, ketukan Luna pada pintu rumah Claudia tidak berjawab, padahal Luna sedang ingin membagi perasaannya. Apa Abuela sedang pergi?, batin si gadis setelah ketukan ketiga. Ia menggigit bibir bawahnya samar sebelum memutuskan duduk di tangga menuju pintu Claudia, sikunya bertumpu pada lutut, telapaknya menyangga dagu.

Kembali Luna merenungkan pembicaraan yang alot mengenai beasiswanya.

“Kalau memang kamu tidak punya cukup uang untuk membayar, mengapa tidak memberitahu kami?”

“Tidak bisa, Bu. Kalian sudah memecat dua supir gara-gara aku, tak mungkin aku melakukannya lagi…. Lebih baik aku bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan itu….”

“Ayah tidak percaya ini. Banyaknya dolar yang kaubutuhkan tak jadi soal buat kami, tetapi masalahnya, kau sudah berbohong selama ini, Luna. Mengatakan pada ibumu kau mengerjakan tugas di kampus, sementara kau sebenarnya mengerjakan hal lain.”

“Ma-maafkan aku…. Aku benar-benar bingung….”

“Tidak, tidak usah minta maaf pada kami. Kau akan kembali ke Stanford bagaimana pun caranya.”

‘Bagaimana pun caranya’. Kalau sudah mengatakan sesuatu dengan keyakinan penuh begitu, Kevin Rosario jelas tak terhentikan. Memikirkan apa yang mungkin pria itu lakukan untuk mengirim Luna balik ke Stanford menakutkan si gadis. Berapa pegawai lagi yang akan kehilangan mata pencaharian semata-mata karena putri bos mereka harus kuliah? Bagaimana kalau ternyata, memecat pegawai saja tidak cukup untuk melunasi biaya pendidikannya? Apa yang akan terjadi pada Chen andai pemuda itu termasuk di antara sekian banyak yang harus berkorban buatnya?

Luna mendesah panjang, wajahnya tertelungkup di atas lutut. Ia merasa bagai gadis manja yang gampang memperoleh segalanya—Kevin dan Camila memang tidak pernah membiarkannya menderita—sementara menjatuhkan banyak orang dalam prosesnya. Bukan peran itu yang ingin Luna mainkan dalam hidup Chen yang sudah sulit, tetapi barangkali takdir tidak mengizinkan Luna menjadi orang yang meringankan beban Chen.

Bahkan bisa jadi, Tuhan tidak menghendaki Luna menginjakkan kaki dalam dunia Chen sama sekali.

“Luna? Mencari Abuela?”

Terkejut, yang dipanggil menengadah seketika dan mendapati sepasang mata yang binarnya tidak pernah tergerus beban kerja, kelopaknya membentuk lengkung menyerupai bulan sabit mengiringi senyum yang tersungging. Pemuda yang menghampiri Luna itu sudah meloloskan kancing teratas kemeja kerjanya dari lubang, simpul Windsor rapi pada dasinya pun dilonggarkan selepas dari kantor Rosario, tampak lebih santai seperti seharusnya dia.

“Hai, Chen. Dasimu tidak terpasang benar, nanti kulaporkan pada Ayah, lho,” gurau Luna dan Chen tertawa kecil, “Ya, aku sedang menunggu Abuela… tetapi sepertinya ia sedang tidak di rumah.”

“Tadi pagi, kalau tidak salah Usnavi bilang ia akan mengantar Abuela ke rumah sakit untuk pemeriksaan dua mingguan. Abuela lebih sering mengeluh sakit belakangan.”

“Oh, itu buruk sekali. Kasihan Abuela…. Aku tak tahu kondisi kesehatannya semakin menurun,” Luna tertunduk, suaranya melirih saat ia bangkit dan membersihkan jeansnya dari debu, “Kalau begitu, se-sebaiknya aku pulang dan membiarkannya istirahat….”

Chen tidak serta-merta menanggapi. Benar Claudia butuh rehat agar bisa pulih, tetapi gadis manis yang murung di hadapannya juga butuh tempat menumpahkan keluh-kesah. Tidak ada penduduk Heights yang cukup bijaksana untuk memberikan saran pada anak-anak muda bermasalah selain Claudia…

…tetapi hei, jika sebatas menghibur hati yang terluka dengan bersenang-senang sejenak, Chen rasa ia cukup ahli melakukannya. Pegawai muda Rosario itu merendahkan tubuh, tangannya diletakkan di lutut, semata agar dirinya bisa melihat wajah cantik yang perlahan kehilangan sinar itu. Jantung Luna seakan melompat mendapati senyum iseng Chen yang mirip kucing, beberapa inci saja dari wajahnya, membuatnya memekik tertahan dengan pipi berubah menyerupai tomat baru direbus.

“C-Chen, k-kau ngapain, sih?!” gagap Luna seraya menarik diri, “B-bikin kaget saja!”

“Luna,” Chen menegakkan badannya kembali, “daripada kau kebingungan karena tidak ketemu Abuela, mau ikut denganku mendinginkan badan?”

“Eh? ‘Mendinginkan’…?”

“Benar,” Chen mengarahkan jempolnya ke sesuatu di seberang jalan, “Ayo kita buka keran pemadam.”

Spontan Luna tersedak, lama-lama terkikik, lalu tergelak tanpa tertahan. Astaga, bermacam-macam kesusahan yang menderanya belakangan membuatnya lupa akan kenangan-kenangan seru zaman SMA dulu, yang biasanya akan ia putar ulang setiap pulang ke Heights. Untung saja Chen memancing ingatannya menggunakan ajakan barusan, sehingga untuk sementara, dunia Luna jadi berwarna lagi.

Begitu pula dengan dunia Chen. Selalu melegakan melihat orang yang kaucinta bahagia, bukan?

“Hahaha… hah… aduduh…. Kau benar-benar akan ditendang Ayah kalau sampai ketahuan membuka keran pemadam lagi, tahu!” Luna menggeleng-geleng, “Lagipula, kau ini bukan berandal cilik yang dulu. Nyalimu pasti sudah hilang tertelan tumpukan pekerjaan!”

“Enak saja!” Chen meraih telapak Luna dan membawa si gadis menyeberang jalan, “Kau akan menjadi saksi bahwa aku masih lumayan berani untuk itu!”

Baiklah. Luna tahu Chen cuma bercanda, jadi dia tak khawatir soal keran pemadam di sudut perempatan. Ia jauh lebih khawatir pada suhu tangannya yang naik-turun tak jelas dalam genggaman operator radio taksi Rosario itu. Ya Tuhan, padahal Luna digandeng dalam rangka ‘mengajak bermain’, tetapi tangan Chen terasa besar dan nyaman dibanding tangan Luna yang kecil, pun ia tidak menarik Luna dengan tergesa-gesa saat menyeberang….

Dan, pemikiran acak yang kerap mengacaukan Luna hadir untuk kesekian kali.

Walau masih seceria waktu SMA dulu, sebenarnya Chen sudah banyak berubah….

“Oke, waktunya main air!”

Tunggu. Luna baru sadar apa yang akan Chen lakukan.

“Oi, kau… kau serius?!” bisik Luna pada kawannya yang sudah berlutut di samping keran pemadam merah, “Chen! Astaga, orang-orang melihatmu! Ada polisi yang sedang berpatroli pula!”

“Terus kenapa? Aku belum memamerkan keberanian—“

“Uh, aku tidak peduli lagi! Kau bikin malu!” Segera Luna menggamit lengan Chen sambil menutup muka; tepat waktu, keran itu nyaris saja mengeluarkan semua isinya gara-gara trik Chen yang mampu membuka katup keran tanpa kunci Inggris, “Ayo, kita pergi! Tidak usah tertawa, dasar jahil!”

Tapi, Chen masih terus terpingkal hingga mereka berbelok. Well, Luna tidak terlalu keberatan mendengar tawa itu, sih…. Toh tawa itu telah meredakan gejolak kesedihan yang tadi menyeretnya.

“Persis seperti tahun-tahun lalu, tetapi tanpa muncratan air,” Tiba-tiba Chen berucap, tawanya masih bersisa, “Bagaimana? Mau menelusuri kenangan-kenangan kita lagi? Sekalian cari angin.”

Luna berhenti berjalan. Sebuah tangga darurat di apartemen beberapa meter di depan membuatnya spontan terdampar pada kenangan yang memang lumayan ia rindukan. Terlepas dari segunung dilema yang menunggu untuk diselesaikan, waktu-waktu tenang seperti ini sangat ia butuhkan. Bibir merahnya yang lembut terkembang menjadi senyuman tipis dan kemudian ia menoleh pada Chen.

“Boleh, kalau kau tidak lelah.”

“Bagus! Aku tidak pernah lelah denganmu, kok, Luna,” Chen mengikuti arah pandang sahabatnya pada tangga darurat apartemen tua di seberang, “Aku selalu menunggumu pulang. Andai Stanford dan Heights jaraknya sedekat jarak mereka di peta, yah… aku bisa dengan mudah melompat ke tempatmu.”

“Atau aku naik kereta di atas garis hitam-putih simbol rel ke kantor Ayah untuk menemuimu,” Luna meneruskan perjalanan, tangannya masih bertautan dengan Chen, “Akan hebat sekali kalau aku disambut dengan kau yang menggedor-gedor pintu Ayah karena minta disembunyikan dari polisi, basah-kuyup habis menjebol keran pemadam. Seperti dulu.”

“Oh, ayolah. Aku kedengaran bodoh jadinya. Kau benar, sekarang aku tidak punya nyali buat memulai kerusuhan payah macam itu lagi,” aku Chen, “Tapi, jika diingat-ingat, ayahmu selalu baik padaku biar galak. Dia pasti menyembunyikanku di kantor dari polisi-polisi itu, memberiku baju ganti, dan kadang menawariku makan siang. Hah, kantor ternyata sudah jadi rumah keduaku sejak lama sekali, ya.”

Raut gembira Chen ketika mengenang masa-masa awal remajanya memicu Luna berbicara lebih banyak tentang itu.

“Ya, kau dan Usnavi sudah menganggap kantor dan rumahku sebagai tempat tinggal kedua, sampai-sampai kalian ngerap bersama dengan berisik di depan rumah dan menyulut amarah Ayah.”

“Aku bahkan masih ingat ekspresinya,” Chen berdeham, memperdalam suaranya menirukan sang bos, lalu mengerutkan kening hingga dua alisnya bertemu di tengah, “’Hei, jangan gaduh, Luna sedang belajar untuk tes masuk Stanford! Dasar anak-anak pemalas!’ Begitu katanya. Setelah itu, aku dan Usnavi akan langsung kabur tanpa penyesalan… dan yah, saat itu aku tidak benar-benar memikirkanmu yang bekerja keras. Maaf, ya.”

Luna meninju pelan lengan atas Chen. “Buat apa minta maaf? Aku malah senang kau bersikap santai menanggapi omelan Ayah karena itu berarti kau telah terikat dengan pemukiman ini. Tak ada tempat yang lebih baik selain rumah dan kau sudah menganggap Heights sebagai rumahmu, maka kami-kami yang ada di sini juga sudah kaujadikan keluarga, ‘kan?” tanyanya sambil tersenyum, “Meski bukan tanah airmu, setidaknya tempat ini sudah menjadi tempatmu pulang, Chen. Sama sepertiku.”

“Sama sepertimu,” ulang Chen, “Benar. Orang-orang di sini, termasuk aku, merupakan bagian dari keluarga besar yang akan selalu mendukungmu. Andai… kau mulai merasa lelah di Stanford sana, ingatlah bahwa ketika liburan, kau akan selalu pulang dan bertemu dengan kami semua. Denganku. Dan, kau bisa mulai membagi beban itu.”

Bukan tanpa alasan Chen mengatakan ini. Kemuraman Luna dari detik ia baru datang dari Stanford jelas menampakkan bahwa gadis itu punya masalah, tetapi Chen tahu diri dan menahan lidahnya biar tidak sembarangan bertanya, sehingga menyakiti si gadis. Pancingan ini (agak) berhasil; Luna menghela napas dalam dan bertanya balik.

“Kira-kira, akankah Heights menyambutku dengan bangga setelah aku kehilangan jalanku, Chen?”

‘Kehilangan jalan’ bisa diartikan banyak hal, semuanya mengarah pada hal-hal buruk. Sekarang ini, Chen memang masih belum dapat memastikan apa masalah yang Luna pendam, tetapi pertanyaan tadi membutuhkan jawaban dan Chen tahu apa yang harus ia katakan. ‘Luna yang kehilangan jalan’ akan tetap gemilang di mata Chen, tak akan berubah sampai kapanpun karena itu Luna. Ia yakin semua penduduk Heights juga akan memandang Luna demikian: cerdas dan pekerja keras.

“Mungkin kamu pernah merasa tak sanggup bangkit lagi, tetapi doa kami semua ‘kan tidak pernah berhenti untukmu, Luna,” ujar Chen, menyamarkan kata ‘aku’ ke dalam ‘kami’, “Karena itu, kamu pasti akan menemukan jalanmu kembali. Selama ini, kamu sudah membuktikan betapa tangguh dirimu, betapa keras upayamu… dan sebelum kau mencapai sesuatu pun, itu sudah membuatmu sangat hebat di mata kami.”

“Chen….”

“Lihat, langit saja setuju padaku,” Chen mendongak, sinar mentari musim panas menerangi wajahnya dan Luna tersipu, “Setiap kau pulang, langit Heights pasti cerah sebab ia bangga menyambutmu. Itulah keajaiban Luna Rosario!

“Jadi, Luna, percayalah,” Dua telapak Chen mendarat lembut di bahu Luna, “kau bisa menemukan jalanmu dan meneruskan perjuanganmu. Setelahnya, kau akan mengubah dunia dan Heights bisa menyombong tentang itu sepanjang waktu. ‘Kami mengenalnya saat ini masih menjadi rumahnya!’ Tidakkah itu keren?”

Sudut-sudut bibir Luna terangkat, senyumnya gemetar beriring riak-riak emosi yang tercermin pada manik beningnya. Ia merasa tak pantas menerima begitu banyak kasih sayang dari seluruh Heights (dan Chen) hanya karena ‘berhasil keluar’. Ia tidak boleh mundur dan mengecewakan mereka…

…maka, benar kata Kevin, ia harus masuk lagi ke Stanford, bagaimana pun caranya, selama tidak menyakiti orang-orang perusahaan Rosario.

Air mata Luna jatuh sebutir.

“L-Luna, kau menangis?! Ma-maaf, aku salah bicara, ya?” –Chen yang panik segera memangkas jarak, ibu jarinya lalu menghapus tangis sunyi Luna— “Apa aku membuatmu tambah sedih? Ah….”

Namun, Luna menurunkan telapak Chen dan tertawa sengau.

“Barangkali, aku cuma… terlalu bahagia… mengetahui ada banyak orang yang mendukung studiku…. Aku tidak mau menyerah…. Tidak akan menyerah….”

“Semangat yang bagus, tetapi seperti yang kubilang, jangan memikul semuanya sendiri, ya,” Telapak Chen bergerak mengeringkan pipi Luna, “Jangan lupa, Heights setia menantimu.”

Luna mengangguk, masih memegang dua telapak Chen.

“Aku tak akan lupa.”

Lagipula, segala tentang kita diukir di tempat ini, mana mungkin aku akan melupakannya?

Luna menjamin ketahanan ingatannya dengan kalimat sederhana ini dan Chen tidak perlu bukti lebih. Senyum pemuda itu tampak lebih hangat dari senyumnya dalam mimpi-mimpi Luna selama di Stanford—dan segalanya tampak mudah lagi.

Toh Luna sudah di rumah sekarang.

bersambung.


maafkan kalo updatean kali ini rada plotless. intinya lagu When You’re Home yg di In The Heights itu emang ceritanya si BenNina flashback sama Benny yg berusaha menyenangkan Nina. aku sampe nyari scriptnya drama ini biar ngerti jalan ceritanya astaga >.<

Advertisements

4 thoughts on “Dim Lights (4/7)

  1. Hahhhh! Ya ampun melting aq bacanya >.<

    Sepertinya kalau aq nontn musikalnya aq bakal salfok berat ama cerita benina deh

    Senyum chen emang selalu cerah bikin adem

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s