Dim Lights (5/7)

intheheights chenluna2

Dim Lights, episode 5: The Club

debut fic by Liana D. S.

casts EXO Chen x f(x) Luna, and some OCs // genre Romance, Friendship, Family, InTheHeights!AU // length Chaptered // rating Teen and Up // warning Bahasa Spanyol bertebaran!

.

prev: ep.4

.

“Kau tahu aku tak akan menyentuh uang itu.”

“Dan, itulah kata-kata gadis yang memiliki segalanya!”

***

“Aku menjual perusahaan Rosario.”

Sebaris kalimat ini mengubah kemeriahan perayaan 4 Juli di Kediaman Rosario menjadi dingin. Ucapan Kevin barusan menyita perhatian keluarga dan semua tamunya, tak terkecuali Chen. Raut riangnya berangsur menegang selagi Camila mengerutkan kening pada sang suami sebelum tertawa canggung.

“Lelucon apa ini, Kevin?”

“Aku tidak bercanda, Cami. Aku sudah mengatakan padamu, Luna akan kembali ke Stanford bagaimana pun caranya. Inilah caraku.”

Demi mendengar dirinya menjadi alasan utama ‘kekacauan’ ini, Luna bangkit dari kursinya tanpa pikir panjang. “Tapi, Yah, aku—aku bisa mencari pekerjaan! A-aku bisa mengambil kelas malam! Kau tak perlu—”

“Perjanjian sudah dibuat, Luna.”

“Lalu, bagaimana dengan pegawai-pegawaimu, Yah? Pikirkanlah tentang mereka yang bekerja padamu.” tanya Luna, nadanya sedikit meninggi dengan penekanan di bagian akhir. Diliriknya Chen yang termenung di seberang meja. Ritme napasnya mencepat.

“Kita berupaya dua puluh tahun untuk ini, Kevin,” sela Camila, “Aku membantumu mengurus surat-surat itu, melalui semua krisis itu, dan sekarang kau dengan begitu saja melepas perusahaan kita pada orang lain?”

“Perusahaan itu dibuat atas namaku. Selain itu, Rosario bukan badan kesejahteraan. Keluarga tetap harus kuutamakan di sini.”

Telapak Chen mengepal di atas pangkuan. “Di hari aku bergabung dengan perusahaan,” lirihnya kemudian, matanya lurus menentang Kevin, “kau mengatakan aku adalah keluargamu.”

“Itu dalam bisnis, sedangkan Luna adalah putriku dan urusannya jelas berbeda.”

“Tidak, kalian semua di Rosario adalah keluarga kami. Kevin, batalkan kontrak apapun yang sudah kaubuat. Segera.” Camila sekali lagi memotong. Kevin tak semudah itu menerima. Luna yang merasa berdosa mencoba berpendapat, tetapi ia malah memicu emosi Kevin. Adu argumen yang mulanya hanya melibatkan Keluarga Rosario mulai menyeret Vanessa—pekerja di salon seberang yang disebut Kevin ‘gadis yang terjebak di barrio’—juga Usnavi—yang berusaha menyelamatkan usahanya karena sebagian besar pekerja Kevin adalah pelanggan bodeganya.

Chen, dalam pusaran suara yang memperjuangkan kepentingan masing-masing, diam seribu bahasa. Ia sendiri tengah berjuang meredam badai yang menghantamnya tanpa peringatan, menguatkan dirinya dari dalam, yang akhirnya tetap gagal dengan mengenaskan. Biarpun menghormati keputusan sulit Kevin untuk memenuhi biaya pendidikan Luna, ia masih sulit menerima sikap Kevin yang menentukan semuanya secara sepihak. Jika ia saja sekacau ini sekarang, bayangkan apa yang terjadi setelah Kevin mengumumkan secara resmi tentang penjualan perusahaan pada semua pegawai.

Tapi, toh nasi sudah menjadi bubur.

“Aku mengerti.”

Sontak seluruh ruangan menjadi senyap ketika Chen angkat bicara. Gesekan antara kaki kursi dan lantai ruang makan mengiringinya saat ia bangkit.

“Terima kasih. Menyenangkan bekerja denganmu, Bos, tetapi aku tentu tidak akan menghalangi datangnya tahun-tahun menyenangkan putrimu di Stanford kelak. Jadi, aku permisi.”

Chen menegakkan tubuh dan berbalik menuju pintu, sementara Luna terpaku. Mimpi buruknya telah mewujud di depan mata, pedih menusuknya. Serta-merta gadis itu berlari menuju sahabat kecilnya dan meraih tangannya.

“Aku akan membenahi semua ini, aku janji…”

“LUNA, MENJAUH DARINYA!”

Bentakan Kevin seolah mampu menggetarkan seluruh ruangan, tetapi hati Luna tidak bergetar karenanya, melainkan langsung luluh-lantak, diterjang ketakutan. Lengan Chen terselip dari genggamannya dan pria muda itu tak lagi berpaling padanya. Luna tahu ke mana Chen akan pergi—sama seperti Vanessa dan Usnavi yang lama-lama jengkel dan angkat kaki—tetapi ia tak beranjak. Luna tak siap menerima tatapan Chen yang gelap dan, kemungkinan besar, sarat kebencian, meski ia sadar ia sangat pantas mendapatkan itu untuk menghancurkan impian Chen… tidak, impian banyak orang di barrio.

***

Panas dari tiap teguk alkohol berpadu nikmat dengan suhu bar yang seperti di neraka. Dentum menyakitkan yang menyertai gerakan liar orang-orang menambah hebat efek memabukkan yang mendera Chen. Sesungguhnya, menyusul Usnavi dan Vanessa yang sedang bertanding untuk membuat satu sama lain cemburu di lantai dansa akan lebih menumpulkan perasaannya, tetapi ia terlalu letih. Rasa jengkel masih tak mau enyah dan cinta Chen untuk Luna pun masih terus bergerak mendepak perasaan buruk itu. Belum lagi kebingungannya mencari pekerjaan baru, bertumpuk dengan harapannya yang berubah jadi puing berkat penolakan terang-terangan dari ayah Luna. Jangan lupa rencananya membangun usaha sendiri dengan uang yang susah-payah ia kumpulkan selama ini; dengan pemecatannya yang tiba-tiba, mampukah angan itu menjadi kenyataan?

Ah, sial.

Cairan keemasan yang membakar kerongkongan Chen jadikan pembilas segala lara malam itu, tak peduli sekabur apa pandangannya, setipis apa kesadarannya setelah menenggak minuman tersebut banyak-banyak. Jeda Chen mengisi ulang slokinya kian singkat, tegukan-tegukannya makin besar. Sebentar lagi. Sebentar lagi ia akan menghilangkan Luna dari benaknya. Sepenuhnya.

Namun, entah pada sloki keberapa, sosok yang mengganggu itu hadir di hadapan Chen, menyisihkan gelas agar perhatian Chen tersita.

“Kau terlalu banyak minum.”

“Oh, rupanya itu kau, si cantik yang menginjak-injak mimpi semua orang!” ujar Chen lantang, “Siapa yang mengizinkanmu masuk ke sini? Kau ‘kan yang membuat kami kehilangan pekerjaan!”

“Aku minta maaf, aku betul-betul tak tahu Ayah akan berbuat sejauh itu…. Aku akan memperbaikinya, jadi tolong mengertilah….”

’Kan aku sudah bilang di rumahmu tadi, aku mengerti. Aku mengerti bahwa semuanya sudah berakhir untukku,” Kalimat Chen timbul-tenggelam, tak jelas, tetapi setelah itu, ia mengangkat gelasnya tepat di depan wajah Luna, “Toast, Nona, untuk akhir dari segalanya!”

Kontan Luna memejam; sepercik alkohol dari gelas Chen nyaris memasuki matanya yang mulai berdenyut-denyut menahan tangis. Gawat.

“Kau tahu aku tak akan menyentuh uang hasil penjualan perusahaan itu.”

“Dan, itulah kata-kata gadis yang memiliki segalanya! Aku si buta tetap mengejar gadis itu walau ada dinding di depanku yang bernama Kevin Rosario!”

“Jangan menjelek-jelekkan Ayah di hadapanku!” teriak Luna, tak suka nama ayahnya disebut-sebut, “Kau tidak pernah cukup memahaminya!”

“Ya, memang. Kalian memang sulit kupahami sebab aku tak pernah cukup baik di mata kalian,” Chen mendorong gelasnya yang setengah penuh ke genggaman Luna, “Kalau tak mau minum itu, sebaiknya pulang saja pada ayahmu dan ceritakan lagi segala keburukanku padanya. Dia akan suka itu.”

Sedikit terhuyung, Chen beranjak dan menyambar begitu saja seorang gadis sebagai pasangannya di lantai dansa, lalu lesap ditelan kerumunan. Sementara itu, Luna mencengkeram gelasnya kuat-kuat. Percuma. Chen tidak bakal memperhatikan kata-katanya lantaran bagi pemuda itu, kini Luna tidak lebih dari seseorang yang memustahilkan berbagai kemungkinan. Ditandaskannya isi gelas Chen demi meredakan nyeri di kepalanya yang seakan mau pecah. Tak sengaja ia meneguk dari tepian sloki di mana bibir Chen sebelumnya melekat; hangat yang tertinggal di sana menyapa lembut bibir Luna, membangkitkan sesal, menambah sesak dadanya. Gadis itu tersengal saat meletakkan gelas—dengan setengah membanting—ke meja bar.

Malam baru dimulai.

Lantai dansa yang pengap menjadi pelarian Luna selanjutnya. Tak ia hiraukan berapa banyak orang yang berebut udara dengannya selama ia bisa menikmati waktu dan melupakan Chen. Tetes-tetes peluh yang berlomba menuruni kening dan pelipis tidak menghalangi pesonanya memancar, maka mudah saja bagi Luna menggaet seorang pemuda untuk menari dengannya. Hitung-hitung pembalasan; mengapa Luna harus meratap sendiri jika Chen di seberang sana bersenang-senang sesukanya?

Semakin larut malam, semakin kencang musik yang diputar, dan orang-orang di bar tambah semangat melepaskan diri dari berbagai tekanan. Ledakan kembang api 4 Juli di luar bar membakar gairah berpesta, tetapi rupanya, ada efek samping yang ditimbulkan suasana hingar-bingar ketika udara sangat lembab dan gerah, apalagi beberapa di antara pengunjung bar sedang mabuk berat sekaligus patah hati. Semula, memang hanya orang-orang di dekat pintu masuk yang saling beradu tinju memperebutkan satu wanita. Lambat-laun, Usnavi ikut tersulut begitu si seksi Vanessa meliukkan tubuh dengan asyiknya di antara pria-pria dekat meja bar. Chen pun sama dengan Usnavi—lebih parah, bahkan. Pada detik retinanya menangkap bayangan Luna bersama seorang pria, Chen meninggalkan gadis yang menjadi rekan dansanya sebelumnya, lalu menerobos kerumunan, lurus menuju Luna, dan melayangkan bogem mentah pada pria yang merengkuh si putri Rosario.

“Chen!” pekik Luna saat Chen mencekal tangannya, “Lepas—apa yang kaulakukan?”

Tidak berjawab. Jemari Chen mengerat di sekeliling pergelangan tangan Luna, menyakiti si gadis, tetapi ketidakpeduliannya lebih mengusik Luna. Bisa saja Luna menganggap itu murni akibat mabuk, sayang Luna terlanjur mengetahui apa yang Chen sembunyikan sejak ayahnya menyatakan perusahaan Rosario dijual. Tanpa picuan stres, tak mungkin Chen bertindak sekasar itu, semabuk apapun dia. Si pria muda dapat berbuat lebih kejam dari sekadar menyeret Luna tanpa arah yang jelas begini… dan kecemasan akan hal itu memaksa Luna terus memberontak. Segera setelah bebas, Luna cepat-cepat bersembunyi dari Chen yang kembali mengejarnya…

…dan selanjutnya gelap.

***

“Kyaaa!”

Que paso[1]?”

Vino el apagon, ay dios[2]!”

“Tenang, semuanya, tenang!”

“Tidak! Jose, kita harus bagaimana?”

“Cahaya ponsel! Nyalakan ponselmu!”

“Buka pintu barnya!”

Gelombang-gelombang panik ini menyapa rungu Chen yang terhimpit orang-orang hingga nyaris pingsan. Gemetar ia raih ponselnya di saku dan mengaktifkannya, menerangi sekitar meski tak seberapa. Napasnya terputus-putus; keadaan riuh macam ini mengikis pasokan oksigen ke paru-parunya, menyiksanya perlahan-lahan, tetapi ia belum boleh pergi. Satu nama terngiang dalam benaknya yang kalut—dan ia memanggil:

“Luna! Luna! Kau di mana? Tolong, ada yang melihat Luna Rosario? Luna!”

Tubuh Chen yang limbung beberapa kali menumbuk pengunjung bar lain, memancing beragam reaksi. Sebagian mengumpat, sebagian tak acuh, seseorang bahkan merenggut kerah bajunya, siap menghajar, tetapi Chen tanggap menepis dan menghindari keramaian. Pandangannya beredar ke seluruh penjuru bar, namun nihil hasilnya. Yang tampak hanya campuran warna hitam-kuning-putih, kombinasi kegelapan dan pendar layar ponsel, melekuk, berputar….

Luna, aku tak bisa menemukanmu….

Orang-orang berhamburan keluar dan Chen hanyut dalam arus tersebut. Kendati demikian, maniknya enggan beralih dari dalam bar. Siapa tahu Luna tidak menemukan jalan keluar? Andai Chen sanggup, ia pasti sudah membelah arus manusia ini demi menggapai Luna. Untuk sekarang, si pemuda terpaksa pasrah: koordinasi yang jelek membuatnya terempas ke jalan usai keluar bar. Jika bukan karena Luna, ia tak akan bangkit dan memerintahkan kakinya terus berjalan. Satu tangannya menyusuri dinding-dinding bangunan untuk menyangga badan, sedangkan tangannya yang lain mempertahankan nyala senter ponsel.

“Luna! Luna!” Parau suara Chen kalah oleh bunyi kaca pecah dan klakson mobil yang bersahutan. Mengerjap-ngerjap dengan kewaspadaan tinggal seperempat, Chen baru sadar keadaan di luar bar sangat rawan. Berandal-berandal selalu beraksi setiap ada perayaan, 4 Juli masuk dalam hitungan, dan kondisi mati listrik yang melanda seluruh blok menunjang pergerakan mereka. Hanya letupan kembang api dari festival di kota yang menjadi sumber cahaya orang-orang Heights malam ini. Maka, akan sangat berbahaya bila seorang gadis tak sengaja berada di antara perang lempar botol bir yang dicetuskan para berandal itu tanpa tahu jalan pulang.

Dalam hati, Chen merutuki perbuatannya yang menjauhi Luna tanpa mengantisipasi hal-hal seperti ini.

Luna tak boleh sampai terluka! Gagal menjaga Luna artinya aku benar-benar tak berguna di mata Kevin!

Sekeping serpihan botol menggores bagian kaki Chen yang tak terlindung sepatu maupun celana. Perihnya tak menghentikan Chen berkeliling mencari Luna, berteman keraguan yang memuakkan. Bisakah ia membenci Luna, sebesar apapun peran gadis itu dalam mengobrak-abrik masa depannya? Mampukah ia mengabaikan Luna jika gadis itu terancam seperti saat ini? Relakah ia dihapus Kevin dari kisah Luna semata karena latar belakangnya yang bukan seorang Latino? Baik-baik sajakah hatinya seperginya Luna ke Stanford nanti, membiarkan dirinya dalam penantian panjang sekali lagi?

Persetan dengan semua rasa sakit ini!

“Chen! Chen!”

Kontan Chen membelalak. Itu suara yang ia cari! Ia menoleh ke kanan, ke kiri, ke belakang—

—dan gadisnya, Nona Rosario bersurai sebahu itu, hendak menembus ‘zona brutal’ para berandal demi menemukan dirinya.

“Lu-na….

“Luna….

“Luna, awas!!!”

Luna terkesiap. Tahu-tahu, Chen sudah menariknya ke sisi jalan, mengurungnya dengan dua lengan, dan membalikkan tubuh mereka sehingga botol bir yang dilempar sembarang oleh seorang berandal ke arah mereka, alih-alih mengenai Luna, menumbuk bahu Chen. Botolnya tidak pecah hingga jatuh ke aspal, tetapi jeritan Chen sudah cukup menggambarkan betapa besar benturan tersebut berdampak pada bahunya. Mengerahkan sisa tenaganya, Chen menghindarkan Luna sejauh-jauhnya dari kerusuhan.

Pada rambu pemberhentian bus, akhirnya Chen tumbang. Badannya tersandar lesu ke tiang rambu dan merosot hingga menyentuh trotoar. Dipeganginya bahu kanannya yang masih kaku seraya mengumpulkan nyawanya yang terserak.

“Se-setidaknya, tempat ini sepi dan aman, tetapi kau harus… s-segera pulang….” –Engahan Chen diselipi desis kesakitan—“Sebentar… aku a-kan mengantarmu….”

“Jangan konyol, Chen! Kau mabuk dan terluka!” –Cerahnya kembang api memperjelas kengerian pada mata bening Luna— “Aku yang akan mengantarmu. Bahumu yang satu tak apa-apa, ‘kan?”

“Luna, Bos pasti… mencarimu sekarang ini…. Pulanglah….”

“Tidak sampai kau juga pulang dengan selamat,” geleng Luna sebelum menyampirkan lengan kiri Chen ke pundaknya, “Ayo. Tangga daruratmu sudah kelihatan, bertahanlah.”

Kepala batu, sama seperti ayahnya, batin Chen. Bukan berarti ia tak suka. Bagaimana Luna bersikeras memosisikan lengannya yang berkali-kali meluncur lemah melewati bahu merupakan sebentuk perhatian yang entah di mana lagi bisa diperoleh. Dengan ini, perasaan Chen pada Luna terbukti tidak searah. Luna membalas tindakan Chen dengan cara yang sama persis, menyingkirkan gengsi dan kegentaran, seakan sudah memaafkan Chen tanpa perlu diminta.

Oh, alangkah cintanya Chen pada gadis ini.

Kabut secara bertahap mengaburkan penglihatan Chen. Sadar bahwa ia tak memiliki banyak waktu sebelum malam ini diakhiri, tangan si pemuda berpindah, dari yang semula menggantung di bahu Luna menjadi ke belakang kepala Luna, bermain sejenak dengan helai-helai halus rambut sang kekasih. Lembut namun tanpa buang tempo, Chen memangkas jarak antara wajah mereka…

“Maaf.”

…dan bersama letupan kembang api 4 Juli sebagai latar belakang, bibir keduanya bertemu. Saling menyapu. Mencuri degup dan helaan napas haru. Mengantarkan berupa-rupa pesan dengan jujur tanpa sepatah kata. Kelopak mata Luna tertutup lambat, telapak mungilnya menyentuh sudut rahang Chen, memperdalam ciuman.

Ingatan Chen tentang manis-pahit-gelap-terang malam 4 Juli terputus sampai di situ.

bersambung.


[1] que paso?: (Spanyol) apa yang terjadi?

[2] vino el apagon, ay dios!: (Spanyol) mati lampu, ya Tuhan!


the club adalah track yg lumayan nguras hati buat ditulis krn intensitas scenenya. hiks. aku sdh menumpahkan semua feel yg aku punya lho guys, tpi kalo masih kurang feel ya apa daya saya. fyi, ini banyak sempilan shipper momentnya sih jadi ga sepenuhnya canon berdasar script :p

Advertisements

4 thoughts on “Dim Lights (5/7)

  1. Hhhmmm, entah kenapa aq berasa tegang pas mati lampu ini
    Berasa sama paniknya ama chen nyari2 luna

    Usaha chen menjadi pantas didepan ayahnya luna jd makin panjang
    Tp akhirnya chen mengakui perasaannya
    Walau awalnya gara-gara mabuk

    Aq gatau sih cerita asli beninanya gimana
    Tp apakah dari adegan kaya gini yg akhirnya berujung ke adegan yg pernah dipertunjukkan chen ama bokyung di latihan dramus terbukanya
    Yg mereka nyanyi lagu judulnya Sunset apa ya gt,hehehhe
    Aq lupa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s