Dim Lights (7/7-END)

intheheights chenluna2

Dim Lights, episode 7: When The Sun Goes Down

debut fic by Liana D. S.

casts EXO Chen x f(x) Luna, and some OCs // genre Romance, Friendship, Family, InTheHeights!AU // length Chaptered // rating Teen and Up // warning Bahasa Spanyol bertebaran!

.

prev: ep. 6

.

Terpisah saat fajar, bertemu saat matahari terbenam.

***

Liburan musim panas akan segera berakhir. Sesuai dengan keputusan yang mereka berdua buat sebelumnya, Chen dan Luna akan segera berpisah: Chen akan memulai usahanya di California, sementara Luna melanjutkan kuliahnya di Stanford. Sepanjang musim ini, mereka telah menghabiskan banyak waktu bersama, bedanya kali ini Kevin tidak lagi sewot. Pemahaman Chen akan prestasi, masa depan, dan harapan yang diletakkan Keluarga Rosario di bahu Luna agaknya mengusik sisi lembut sang bos, sehingga setidaknya, ia sudi memberikan izin pada dua sejoli ini untuk memadu kasih sebelum kelak menempuh jalan yang berlainan. Masih tak jelas apakah pendapat Kevin mengenai menantu yang bukan Latino berubah, tetapi buat Chen, sedikit waktu ini saja cukuplah. Waktu bersama putri Rosario adalah barang mahal yang tak boleh disia-siakan, bukan?

Kurang dari 24 jam lagi, pesawat Luna akan terbang, membawanya keluar Heights menuju asanya yang gemilang, sementara Chen baru akan merintis hidupnya pasca lepas dari Kevin. Maka itu, keduanya sepakat menjadikan damainya pemandangan matahari tenggelam di Fort Tryon Park sebagai penyekat buku kisah cinta mereka. Mengapa penyekat? Itu karena kisah mereka masih akan terus ditulis dan supaya tidak lupa sampai mana mereka menulis, mereka taruhlah foto-foto jingga cantik senja di antara halaman-halaman cinta mereka itu.

Sempat Chen berpikir, jika waktu bisa diatur agar stagnan, matahari di ufuk barat tak akan terbenam dan tak akan ada hari esok, maka tak akan ada pula perpisahan. ‘Selamanya’ menjadi mungkin, jiwanya mustahil digoyahkan rindu sebab Luna selalu di sisinya. Selalu, sayangnya waktu terlalu encer. Tangan mungil yang digenggamnya akan hilang besok tanpa sedikit saja meninggalkan jejak kehangatan, lembut suara yang menuturkan sekian banyak impian itu akan lesap ditelan deru pesawat terbang, dan rasa yang berpadu dengan hangat senja itu pun boleh jadi larut bersama encernya waktu tadi.

Ah.

“Ada apa, Chen?” Luna, yang duduk sebangku dengan mantan pegawai ayahnya itu, bertanya cemas begitu mendapati raut lesu Chen yang diiringi desah berat.

“Tidak …. Aku hanya … ah,” Chen sekali lagi membuang napas keras, “Aku baru sadar kalau aku sangat mencintaimu. Seperti, sangat mencintaimu hingga tidak ingin hari esok datang. Bodoh benar.”

Usai memejam, Chen menengadah, tidak ingin melihat atau merasakan presensi Luna sejenak. Ia hanya ingin meresapi belaian angin yang berhati-hati, suara orang-orang yang bercengkerama di sekitarnya, dan tapak-tapak kaki pengunjung taman yang lalu-lalang. Tentu saja gagal lantaran Luna masih di sana, bersama belaian yang sehati-hati angin, bersama bisiknya yang sanggup meredam beragam cengkerama sekalipun, bersama isi hatinya yang terutarakan setulusnya pada Chen.

“Bagiku, itu tidak bodoh, tetapi memang sebagian diri kita lebih egois dari yang lain,” Luna  menautkan jemarinya dengan Chen. “Setelah apa yang kita alami sepanjang musim panas ini, perpisahan jadi terasa sangat berat.”

Masuk akal. Drama yang mewarnai kepulangan Luna tahun ini sekaligus merupakan bentuk perjuangannya dengan Chen untuk mempertahankan hubungan mereka, tetapi sayangnya, setelah hubungan itu mendapat restu pun, jarak dan impian masih harus menjauhkan mereka. Usaha keras mereka jadi kelihatan sia-sia. Sepanas apa pun api, jika jauh darinya akan tetap terasa dingin; kira-kira akan begitukah api yang menyala antara Chen dan Luna usai mereka melangkah berlawanan arah?

“Luna.”

“Ya?”

“Setelah ini, kita akan bekerja keras, bukan?”

“Tentu saja.”

“Saat itu, menurutmu apakah kita akan mulai saling melupakan?”

Luna terkejut, sejenak kemudian bibirnya berkedut sedih. Alih-alih langsung menjawab, gadis itu memalingkan muka, tak tahu jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan kekasihnya.

“Dari semua waktu menunggu yang kita lalui setelah berpisah, kali ini tampaknya akan menjadi yang paling panjang,” Chen tertawa kecil, pahit, tidak sanggup memandang wajah sedih si gadis. “Dalam tahun-tahunmu berikutnya di Stanford, kau jelas tidak bisa bersantai lagi, apalagi Bos Kevin—ehm, maksudku Kevin—sudah mempertaruhkan segalanya untukmu. Aku pun sama; karena sudah berdiri di atas kaki sendiri, aku tidak bisa bergantung pada siapa-siapa dan pasti akan sangat sibuk. Di tengah-tengah pikiran yang nantinya akan penuh, rasanya … kejadian Empat Juli ini akan terlupakan begitu saja.”

“Tidak!”

Tiba-tiba sekali sahutan Luna ini hingga Chen terjajar mundur karena kagetnya. Luna sendiri telah mencondongkan tubuhnya pada sang kekasih, menggebu-gebu menyampaikan pendapatnya.

“Aku tidak akan lupa! Ini adalah musim panas terberat dalam hidup kita berdua, mana mungkin aku lupa? Kita berjuang mati-matian sampai aku dimarahi Ayah dan bahumu terluka, tetapi kita bisa melaluinya bersama-sama, jadi apa menurutmu musim panas ini masih tidak berkesan? Aku tidak akan lupa, aku pastikan itu!”

Mengerjap cepat, Chen menatap Luna yang kehabisan napas, lantas tersenyum geli. Yang disenyumi mendadak sadar apa yang dilakukannya berlebihan dan kembali ke posisinya semula dengan pipi bersemu merah. Chen kira rasa malu itu tidak perlu, maka ia melontarkan sebuah pujian tulus yang mampu menghapuskan rasa malu si gadis.

“Aku selalu menyukai kesungguhan dalam kata-katamu, Luna, karena kesungguhan itu tidak pernah berbohong.”

“I-itu tadi s-sebenarnya h-hanya …. Um, begini, jadi …” Luna mendehem sejenak, berjuang menata kata-katanya di tengah kegugupan. “Aku … cuma menganggap bahwa melupakan satu sama lain semata akibat pekerjaan dan setumpuk tugas kuliah akan sangat menyedihkan. Selama ini, jika aku merasa sangat putus asa di tengah-tengah perkuliahan, aku sering mengingat wajah-wajah orang  yang mendukungku di Heights, tak terkecuali kamu—dan semangatku pasti akan langsung pulih. Segala tingkah konyol dan lelucon absurd yang kausuguhkan selama liburan musim panasku termasuk kenangan yang sanggup membuatku bertahan cukup lama di kampus, Chen. Jadi, pikirkanlah, apa menurutmu kau dapat hilang dari benakku setelah sekian lama mendiaminya?”

Wajah sendu Luna yang diwarnai semburat merah dari ufuk barat saat itu pun sama, nyaris tidak mungkin dilupakan biar kelak, mungkin, akan ada sosok-sosok baru yang datang. Dalam keheningan, Chen mengagumi paras ayu gadis itu sebelum tersenyum dan mengucapkan hal yang senada mengenai gadisnya.

“Aku tidak mengira apa yang kulakukan juga kaulakukan di Inggris sana. Lucu bagaimana setelah menjalani hari yang panjang, kita berdua diam-diam sering saling memikirkan.” Luna tampaknya terkejut mendengar ini hingga ia menoleh pada si pemuda. “Tidak ada wajah yang cukup memulihkanku selain milikmu, jadi yah … kumunculkan saja kenangan-kenangan tentangmu setiap kali memejam beberapa menit saat matahari terbenam. Jika aku tidak menjadikan itu sebagai kebiasaanku, mungkin setiap pertemuan denganmu tidak akan sebermakna biasanya.

“Tapi, mulai hari ini, kurasa membayangkan masa depan kita akan lebih membantu daripada mengingat masa lalu.”

Masa depan kita, Chen bilang. Optimisme inilah yang membuat Luna merasa nyaman berada di dekat Chen dan Chen tahu itu, maka ia tidak memberi tempat untuk keraguan. Ia yakin ada sebuah ‘kita’ di masa depan, yang terdiri dari dirinya dan Luna, dalam kebahagiaan selamanya seperti akhir dongeng-dongeng. Ya, kehidupan mereka bukan dongeng, tetapi bukan berarti tidak ada ‘bahagia selamanya’ di sana.

“Masa depan kita,” ulang Luna sembari tersenyum. “Aku suka mendengarnya. Semoga kita berdua berhasil ya, Chen.”

“Semoga. Dan harus. Yah, kesuksesan tidak semestinya dijadikan pilihan sebab kita bisa memilih gagal jika semangat sedang melemah. Itu kan tidak bagus.” Iseng Chen mencubit pipi Luna, membuat si gadis sejenak meringis kesakitan sebelum terkekeh senang. “Aku akan meneleponmu.”

“Kau tahu aku tidak mengharapkan teleponmu setiap hari. Kita akan sangat sibuk,” ujar Luna penuh pengertian. “Aku … juga tidak bisa janji akan menghubungimu setiap waktu; jangan marah, ya.”

“Marah? Untuk apa?” Chen mengusak sayang rambut Luna sebelum membelainya lagi untuk merapikannya. “Kita masih bisa bertemu dalam mimpi, kan? Temui saja aku di situ tiap malam.”

Dalam mimpi, dalam asa, dalam cita-cita Luna, Chen tahu dirinya ada karena Luna juga ada dalam setiap tujuannya. Menyadari hal ini, Luna pun mengulas senyum dan mendekap Chen erat-erat, merekam bagaimana wangi alami pria itu, bagaimana panas tubuhnya, bagaimana cepat debar jantungnya agar dalam mimpinya nanti, yang tersaji adalah sensasi yang sama intim.

Dengan demikian, perpisahan mereka jadi tidak akan banyak bermakna.

***

Keesokan hari, pagi-pagi buta, Chen membunyikan klakson di depan kantor Rosario.

Merupakan sebuah kehormatan bagi Chen menyopiri Luna ke bandara sekaligus menyetir taksi Rosario untuk terakhir kali. Ia tak pernah menyangka hari terakhirnya bekerja pada Kevin terasa pahit-manis begini. Pahitnya tidak perlu dijelaskan kembali, tetapi bagaimana Luna dengan imut memohon pada ayahnya untuk duduk di sebelah Chen daripada di belakang layaknya penumpang, bagaimana Kevin memasang wajah seram yang sebetulnya berarti ‘jaga anakku’, dan ‘hati-hati di jalan, Chen, Luna sayang’ dari Camila yang seolah memasrahkan Luna padanya amat melambungkan Chen. Sepanjang jalan, Chen dan Luna tidak lagi menyinggung soal perpisahan, melainkan prospek-prospek apa yang menunggu di depan—hal-hal rasional, tidak lagi main perasaan.

“California, benar?” Begitu tiba di bandara, tatkala Chen menurunkan barang-barangnya dari bagasi, Luna mengonfirmasi rencana Chen setelah ini. “Kabari aku kalau kau sudah mulai bekerja, jangan lupa, supaya aku tahu ke mana harus pulang—m-maksudku mengunjungimu saat liburan.”

Chen tergelak. “Tidak usah diralat, kelak aku akan benar-benar jadi tempatmu pulang, kok.”

“Diam, deh.”

Aih, pipi tomat itu, Chen tak tahan untuk membelainya lembut. Kapan Chen punya kesempatan untuk membelai pipi itu lagi, kira-kira?

Segera setelah diturunkan, ransel Luna disandang oleh pemiliknya, mantap Luna memegang sepasang sandangan itu seakan mau berangkat perang. Chen menyeret kopor Luna di samping gadis itu sambil sesekali mengangkat tas ransel Luna dari bawah, memperingan beban yang menggantungi pundak gadisnya. Matahari mulai meninggi, tetapi cahayanya masih pucat, dan keduanya melangkah cepat karena takut ditinggal pesawat.

“Chen, sudah lepaskan ranselku. Tidak berat, kok.” Tangan Luna terulur ke samping. “Pegang tanganku saja.”

O, permintaan yang malu-malu, seperti matahari pagi ini yang belum mau terbit penuh. Mengerti apa tujuan si gadis, segera Chen menjalin jemarinya dengan milik Luna dan selanjutnya, senyum Luna melebar cantik.

“Terima kasih.”

De nada,” ujar Chen sembari mengecup punggung jemari Luna, “Senorita.[1]

Dua kosong. Luna merona untuk kali kedua, yang sekarang telinganya ikut memerah.

“Chen! Tidak usah sok gentle, ih!”

Bergandengan tangan, Chen dan Luna menuju gerbang pemberangkatan—di mana akhirnya Chen menghentikan langkah lantaran ia tak ikut pergi. Luna tak segera masuk ke antrean orang-orang yang mengurus bagasi dan justru menatap Chen lamat-lamat. Belum relakah gadis itu berpisah dengan Chen?

“Luna, ayo cepat, nanti kau terlambat.”

“Sebelum itu,” Luna berjalan cepat ke arah Chen, lantas mengeluarkan satu barang kecil dari saku jaket dan meletakkannya dalam genggaman Chen, “ini. Aku mencurinya diam-diam dari Ayah. Tolong simpan ini bersama seragam kerjamu selama jadi karyawan Ayah, ya.”

Membuka genggaman, Chen terkekeh mendapati kunci lokernya di kantor lama. Aku kira apa, batin Chen, tidak menduga Luna bisa seserius itu mengenai sebuah kunci.

“Tolong jangan lupakan waktu-waktumu di Rosario, dari saat kecil kau bersembunyi setelah membuka keran pemadam hingga kita berdua memandu taksi lewat radio.”

Meski sudah sepakat akan lebih sering membayangkan masa depan ketimbang memutar balik kenangan, nyatanya Chen tetap termakan rindu. Kunci itu entah ia putar berapa kali selama bekerja di Rosario dan memang ada banyak kenangan yang tersimpan di setiap putaran kuncinya. Belajar menyetir, mengoperasikan radio, gaji pertama, kemarahan Kevin, bekal makan siang dari Camila, kepulangan Luna …

… ya, terutama kepulangan Luna.

“Aku tak akan lupa.” Chen mengamankan kuncinya dalam saku. “Jangan khawatir.”

Luna mendaratkan kecupan cepat di pipi Chen, membisikkan ‘aku mencintaimu’, dan melangkah tergesa ke antrean kargo tanpa menoleh lagi. Barulah setelah masuk antrean, Luna menoleh ke arah Chen dan melambai kuat-kuat dengan senyum riang yang jujur.

Bersama dengan sekian banyak anggota keluarga penumpang, Chen menyaksikan Luna naik ke pesawat sendirian. Rambut gadis itu tertiup pelan oleh angin pagi, di latar belakangnya semburat jingga-kuning mewarnai langit. Luna sangat cantik biarpun dalam keremangan awal hari, terlebih kemurungan yang menaungi wajahnya beberapa hari sebelum pergi sudah menghilang entah ke mana. Penglihatan Chen yang masih tajam dapat menangkap senyum tipis Luna sebelum memasuki pintu pesawat—tanda bahwa di Heights tidak ada lagi yang dapat menahannya meraih mimpi.

Hal mana berlaku pula untuk Chen.

Terasa agak ganjil bagi Chen menunggu pesawat Luna berangkat dari bandara, bukannya duduk di kantor, pada jam kerja begini. Tak mengapa, kini Chen tidak terikat oleh atasan mana pun: selama belum mendapat atasan baru atau berhasil membuka usahanya, Chen hanyalah Chen, bukan karyawan yang mesti mematuhi jadwal. Memanjakan diri barang sehari ditemani matahari pagi terasa menyejukkan, apalagi jika tujuan awalnya untuk mengantarkan sang kekasih.

Pesawat Luna terbang pukul enam dan Chen akhirnya berjalan keluar bandara, memainkan dua anak kunci—kunci taksi dan kunci loker—di telunjuknya. Mentari menghujani lokasi parkir dengan cahayanya yang benderang, membuka halaman baru dalam kehidupan Chen. Meninggalkan Bandara John F. Kennedy, Chen masuk ke taksi dan menyetir ke Rosario.

California. Dengan simpanan yang ia punya, Chen akan terlebih dahulu meminta advis Kevin sebelum benar-benar memulai sendiri. Dalam bayangannya, usaha itu pertama kecil, lalu ia tekun bekerja, sehingga usaha itu menjadi besar dan besar. Ia punya strategi dan koneksi yang terbangun selama bekerja di Rosario, menurut Chen mereka sangat cukup untuk back-up dorongan mental, syukur-syukur jika secara finansial juga mendukung. Chen menghela napas; membangun usaha terasa menegangkan, tetapi jika ingin menemukan Luna di ujung jalannya, maka ia tidak boleh gentar.

Bagaimana jalanan Heights mulai bersimbah cahaya ketika Chen hendak mengembalikan taksi Kevin seolah menggambarkan jalan hidup Chen kelak.

Malam telah sepenuhnya berganti pagi. Bulan bersembunyi ke balik awan, tetapi Chen bersyukur tetap ada Bulan dalam malamnya meski cahayanya tak seberapa terang.

Ada yang kelupaan: aku juga mencintaimu. Sekarang saja aku sudah merindukanmu.

Terkirim. Chen berharap ‘bulannya’ akan membuka pesan itu sesampainya di Stanford dan bergulingan gembira karenanya.

Taksi Rosario terakhir terparkir rapi di depan kantor lama yang akan berganti pemilik. Orang yang memarkirnya baru saja pamit, menyongsong sinar di ujung lorong remang, menuju masa depan yang lebih baik.

TAMAT


[1] (Spanyol) de nada, Senorita: terima kasih kembali, Nona/Nyonya.


akhirnya kelar ya Tuhan 7 chapter yg totalnya 10rb word aja kok ya luama ditulisnya ziyalan plot bunny ini. habis gigit ninggal, jadinya kan buntu ini otak mau nerusin gimana. anw, aku sendiri tidak puas diakhiri begini huahua. akhir musikal aslinya lebih gantung malah, duh dilema. mungkin dibikin sekuel buat tulisan akhir bulan bagus juga. kalau masih ada yang inget ff ini aku bersyukur banget, terima kasih karena sudah setia pada tulisan ini ;-;

see you next fic!

Advertisements

One thought on “Dim Lights (7/7-END)

  1. Reblogged this on Sixness and commented:

    finally, last chapter benina korean ver is up! maaf hiatusnya lama banget ;-; enjoy anyway and see you on next chaptered fic ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s